Perayaan Isra Mikraj di SMP Negeri 44 Jakarta
JAKARTA - Pada Jumat (13/ 2/ 2026) SMP Negeri 44 Jakarta mengadakan peringatan peristiwa Isra Mikraj, salah satu peristiwa yang paling bersejarah bagi salah satu rukun umat Islam. Peringatan tersebut dilaksanakan pada lapangan gedung lama SMP Negeri 44, dengan tema "Meneladani Perjalanan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW untuk Membentuk Karakter Pelajar Berakhlakul Karimah"

Gema selawat dan lantunan ayat suci Al-Qur'an di keheningan fajar, menyatukan seluruh warga sekolah dalam satu barisan yang khidmat. Ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tapi menjadi momentum spiritual bagi semua peserta untuk kembali menyelami makna dibalik perintah salat lima waktu sebagai bekal pengabdian diri. Dengan semangat yang berkobar di tengah sejuknya udara pagi, kami berkumpul untuk memetik hikmah dari perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga menembus Sidratul Muntaha dalam waktu semalam saja.
Rangkaian acara pagi itu dibuka dengan gebrakan semangat dari tim Hadroh kebanggaan SMP 44. Tabuhan rebana yang kompak dan penuh semangat dengan lantunan selawat yang menggema kuat di seluruh penjuru area sekolah. Suasana pagi yang tadinya masih menyisakan sedikit rasa kantuk mendadak berubah menjadi energi positif. Ketukan irama yang selaras sukses untuk membangun nuansa Islami yang kental sebelum masuk ke acara inti.
.jpg?1771389267751)
Setelah suasana meriah, acara langsung diambil alih oleh MC yang tampil memukau. Dengan gaya bahasa yang komunikatif, MC menyapa ramah seluruh guru dan siswa, lalu mulai membacakan susunan acara secara runtut. Dari pemaparan MC ini, semua peserta jadi punya bayangan agenda hari ini yang bakal penuh dengan penampilan menarik dan tentu saja, siraman rohani penuh makna untuk bekal spiritual kita.
Suasana yang riuh, kemudian berangsur hening saat acara memasuki sesi pembacaan ayat suci Al-Qur'an. Momen tenang ini dibawakan oleh teman kita, Ales, yang melantunkan Surah Al-Isra ayat 1 dengan suara yang sangat merdu dan menenangkan hati dengan lafaz:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Begitu ayat suci selesai dilantunkan, Rachel kemudian membacakan saritilawah atau artinya dengan penuh penghayatan.
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Memasuki sesi sambutan, Bapak Ahmad Rifai, S.Pd. selaku Ketua Pelaksana naik ke atas panggung. Beliau menjabarkan dengan sangat rinci kenapa peringatan Isra Mikraj ini sangat krusial untuk terus kita rayakan. Beliau menekankan bahwa ini bukan sekadar dongeng masa lalu, melainkan fondasi sejarah yang menguji keimanan kita terhadap kebesaran Allah.
Kemeriahanpun bertambah, ketika tiba waktunya sambutan dari Kepala Sekolah kita, Bapak Wahyudin, M.Pd. Bukannya memberikan pidato formal yang kaku, beliau justru membawa kejutan yang bikin suasana langsung seru dan meriah! Beliau memberikan tantangan kepada para murid untuk maju ke depan dan melantunkan hafalan surah dari Juz 30. Salah satu murid kelas 7 bernama Tindar menjawab tantangan itu.

Bapak Wahyudin mulai masuk ke inti pesan yang mendalam mengenai 5 Rukun Islam, terutama bagian Sholat. Beliau mengingatkan bahwa salat adalah perintah langsung dari Allah yang menjadi tiang agama bagi kita semua. Setelah mendapat asupan nasihat dari Bapak Kepala Sekolah, panggung kembali diambil alih oleh penampilan seni Islami yang memanjakan telinga dan mata. Kali ini giliran siswi-siswi berbakat kita yang unjuk gigi membawakan Qosidah dengan iringan tabuhan rebana yang serempak.
Lantunan vokal mereka yang lantang dan merdu itu sukses menghidupkan suasana, membuat acara yang tadinya tenang kembali terasa sangat meriah dan penuh energi positif. Penonton pun seolah ikut terbawa semangat dari tiap ketukan rebana yang dimainkan.
Di sela-sela kemeriahan seni, panggung tiba-tiba menjadi perhatian saat teman kita, Kholis, naik ke mimbar. Penampilannya benar-benar mencuri panggung! Bisa dibilang, Kholis ini adalah "Ustadz Cilik" kebanggaan sekolah kita. Dengan gaya bicara yang tertata, percaya diri, dan sesekali menyelipkan nada bicara layaknya pendakwah asli, Kholis menyampaikan pidato singkatnya.
Ia mengajak kita semua sebagai generasi muda untuk tidak sekadar tahu sejarah Isra Mikraj, tapi juga benar-benar mengamalkan hikmahnya dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Penampilannya yang memukau, sukses membuat teman-teman memberikan tepuk tangan yang meriah!
Acara dilanjutkan dengan lantunan Nasyid. Vokal yang disuguhkan pada sesi ini benar-benar mencuri perhatian. Harmonisasi suara yang kuat dan lantunan yang penuh gairah sukses membuat seluruh lapangan kembali bergemuruh dengan tepuk tangan meriah. Momen ini benar-benar jadi salah satu hiburan yang paling menghidupkan suasana pagi itu!
Menjelang acara puncak, giliran perwakilan komite yaitu Bu Eis, memberikan sambutannya. Pesan penting yang beliau sampaikan kurang lebih sejalan dengan harapan Pak Ahmad Rifai sebelumnya. Beliau sangat menekankan betapa pentingnya momen Isra Mikraj ini, sebagai fondasi keimanan, dan berharap seluruh siswa bisa tetap menjaga ketertiban agar bisa memetik hikmah secara utuh dari awal hingga akhir acara.
Sebagai penutup sesi hiburan sekaligus jembatan menuju inti acara, tim Hadroh kembali tampil ke depan! Penampilan kedua yang sekaligus menjadi suguhan utama mereka. Tabuhan alat musik yang jauh lebih bertenaga, berpadu dengan selawat yang menggema kuat, menarik perhatian seluruh warga SMPN 44 Jakarta. Suasana yang tadinya penuh sorak sorai kemeriahan perlahan berubah menjadi lebih tenang, seolah perlahan menyiapkan dan melembutkan hati kita semua untuk menerima nasihat agama dari penceramah utama.
Tibalah kita pada inti dari seluruh rangkaian acara hari ini, yaitu tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz H. Aang Kunaifi, S.Pd. Beliau mengawali ceramahnya dengan mengajak seluruh warga sekolah untuk menenangkan hati dan pikiran. Dengan suara yang lantang, beliau membimbing seluruhnya untuk melantunkan doa Nabi Musa yang tertuang dalam Surah Thaha ayat 25-30.
قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي (٢٥) وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي (٢٦) وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي (٢٧) يَفْقَهُوا قَوْلِي (٢٨) وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي (٢٩) هَارُونَ أَخِي (٣٠)
Doa ini menjadi pembuka yang sempurna agar hati lebih siap menerima tetesan ilmu yang akan beliau sampaikan.
Beliau kemudian membacakan Surah Al-Isra ayat 1 dengan sangat jelas dan tegas, membawa pikiran kami pergi ke malam yang penuh keajaiban itu.
Ustadz Aang menjelaskan bahwa Isra Mikraj bukan hanya perjalanan fisik, tapi sebuah mukjizat yang membuktikan bahwa bagi Allah, tidak ada yang mustahil. Suasana lapangan yang tadinya riuh, perlahan berubah menjadi sunyi; semua telinga terfokus pada pesan-pesan penting yang beliau sampaikan.
Di tengah ceramah, suasana kembali mencair saat beliau mengadakan sesi kuis. Beberapa teman kita yang cukup berani maju ke depan mendapatkan pertanyaan seputar materi yang disampaikan. Interaksi ini membuat ceramah hidup dan penuh tawa namun tetap edukatif.
Masuk ke inti pesan, Ustadz H. Aang Kunaifi, S. Pd. menekankan 3 Pesan Utama yang dibawa oleh Rasulullah SAW setelah menembus langit ketujuh sebagai "oleh-oleh" bagi umatnya:
Pesan Pertama (Keteguhan Aqidah): Beliau mengingatkan bahwa Allah menjanjikan ampunan bagi hamba-Nya yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun. Inilah fondasi Aqidah kita. Beliau berpesan agar kita tidak goyah oleh pengaruh buruk zaman sekarang dan tetap menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bersandar.
Pesan Kedua (Pilar Sholat): Inilah pesan yang paling krusial. Sholat lima waktu adalah perintah langsung tanpa perantara. Ustadz Aang berpesan dengan sangat tegas, "Jangan pernah tinggalkan sholat!". Sholat adalah tiang agama kita; jika sholat kita runtuh, maka runtuh pulalah seluruh amalan kita. Beliau mengajak kita menjadikan sholat sebagai kebutuhan, bukan sekadar kewajiban.
Pesan Ketiga (Kemudahan dalam Syariat & Kebaikan): Sesuai dengan apa yang sering disampaikan para ulama tentang akhir surat Al-Baqarah yang turun saat Mi'raj. Beliau menekankan bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Beliau berpesan agar kita menjauhi maksiat dan selalu berusaha melakukan kebaikan sekecil apa pun karena setiap kebaikan akan kembali pada diri kita sendiri.
Beliau juga membedah pentingnya Syariat (aturan dalam beribadah) dan Ukhuwah/Akhlakul Karimah. Beliau berpesan agar kita menjaga hubungan baik dengan sesama teman dan guru. Jangan sampai kita rajin ibadah, tapi lisan kita masih menyakiti orang lain. "Jadilah pribadi yang bermanfaat," pesan beliau.

Tak lupa, kalimat penyemangat "Man Jadda Wa Jadda" kembali diucapkan untuk memotivasi kami bahwa kesungguhan dalam belajar dan beribadah adalah kunci sukses di dunia maupun di akhirat.
Rangkaian acara formal berakhir dengan doa penutup. Setelah jeda istirahat selama 15 menit, seluruh siswa diarahkan menuju gedung baru namun sebelum itu dilaksanakannya Halal Bi Halal. Momen bersalaman antara murid dan guru ini, menjadi simbol saling memaafkan dan mempererat kekeluargaan. Kegiatan diakhiri dengan pembagian MBG di gedung baru, yang akhirnya menutup seluruh rangkaian acara.
IQBAL
*Tim Jurnalistik SMP Negeri 44 Jakarta